Selasa, 01 Mei 2012

Penalaran Induktif

Pengertian Penalaran dan Macam-Macam Penalaran

Penalaran adalah proses berpikir yang bertolak dari pengamatan indera (pengamatan empirik) yang menghasilkan sejumlah konsep dan pengertian. Berdasarkan pengamatan yang sejenis juga akan terbentuk proposisi – proposisi yang sejenis, berdasarkan sejumlah proposisi yang diketahui atau dianggap benar, orang menyimpulkan sebuah proposisi baru yang sebelumnya tidak diketahui. Proses inilah yang disebut menalar.

Dalam penalaran, proposisi yang dijadikan dasar penyimpulan disebut dengan premis (antesedens) dan hasil kesimpulannya disebut dengan konklusi (consequence).

Penalaran ada dua jenis yaitu : 

1. Penalaran Induktif
 Penalaran induktif adalah penalaran yang memberlakukan atribut-atribut khusus untuk hal-hal yang bersifat umum (Smart,1972:64). Penalaran ini lebih banyak berpijak pada observasi inderawi atau empiri.
Contoh kalimat induktif:
-Harimau berdaun telinga berkembang biak dengan melahirkan
-Ikan Paus berdaun telinga berkembang biak dengan melahirkan
 kesimpulan ---> Semua hewan yang berdaun telinga berkembang biak dengan melahirkan

2. Penalaran Deduktif
 Penalaran deduktif dibidani oleh filosof Yunani Aristoteles merupakan penalaran yang beralur dari pernyataan-pernyataan yang bersifat umum menuju pada penyimpulan yang bersifat khusus. Sang Bagawan Aristoteles (Van Dalen:6) menyatakan bahwa penalaran deduktif adalah, ”A discourse in wich certain things being posited, something else than what is posited necessarily follows from them”. pola penalaran ini dikenal dengan pola silogisme.


Penalaran Deduktif Secara Tidak Langsung


Penalaran Deduktif
 Penalaran deduktif dibidani oleh filosof Yunani Aristoteles merupakan penalaran yang beralur dari pernyataan-pernyataan yang bersifat umum menuju pada penyimpulan yang bersifat khusus. Sang Bagawan Aristoteles (Van Dalen:6) menyatakan bahwa penalaran deduktif adalah, ”A discourse in wich certain things being posited, something else than what is posited necessarily follows from them”. pola penalaran ini dikenal dengan pola silogisme.
PENALARAN DEDUKTIF SECARA TIDAK LANGSUNG :
1. Silogisme Kategorial
Silogisme kategorial merupakan proses penalaran yang mengggabungkan dua proporsisi yang berlainan untuk menarik suatu kesimpulan. Contoh :
· Semua binatang memiliki insting.
Kucing adalah binatang.
Jadi kucing memiliki insting.
· Semua bunga wangi.
Mawar adalah bunga.
Jadi mawar adalah wangi.

2. Silogisme Hipotesa
Silogisme hipotesa merupakan silogisme yang premis mayornya berproporsisi kondisional hipotesis (pengandaian). Contoh :
· Jika naik kelas berarti belajar
Saya belajar.
Jadi saya naik kelas.
Jika saya haus saya meminum air
saya haus.
Jadi saya meminum air.

3. Silogisme Alternatif
Silogisme alternatif merupakan silogisme yang terdiri atas premis mayor berupa proporsisi alternatif. Contoh :
· Rico adalah siswa atau mahasiswa.
Rico seorang siswa.
Jadi Rico bukan seorang mahasiswa.
· Sunlight adalah sabun pencuci piring atau sabun mandi
Sunlight merupakan sabun pencuci piring.
Jadi sunlight bukan merupakan sabun mandi.

4. Silogisme Entiment
Silogisme entiment adalah silogisme yang tidak mempunyai premis mayor. Contoh :
· Andreas seorang yang pandai bermain drum karena Andreas seorang drummer
· Safik memilik tubuh yang atletis karena Safik seorang Atlit.

5. Rantai Deduksi
Rantai deduksi adalah kumpulan dari seluruh penalaran deduksi baik yang langsung maupun tidak langsung. Contoh :
· Semua susu manis rasanya
Sebagian yang manis rasanya adalah susu
Setelah berolahraga saya meminum susu
Karena susu menghasilkan energi
Saya tidak pernah menolak diberi susu
Karena saya memang sangat suka susu
· Eko tidak suka buah mengkudu
Karena mengkudu hambar rasanya
Eko diberi buah mengkudu
Jadi eko tidak memakannya



Sumber:

Penalaran Deduktif Secara Langsung

Penalaran Deduktif

Penalaran deduktif dibidani oleh filosof Yunani Aristoteles merupakan penalaran yang beralur dari pernyataan-pernyataan yang bersifat umum menuju pada penyimpulan yang bersifat khusus. Sang Bagawan Aristoteles (Van Dalen:6) menyatakan bahwa penalaran deduktif adalah, ”A discourse in wich certain things being posited, something else than what is posited necessarily follows from them”. pola penalaran ini dikenal dengan pola silogisme.

Contoh kalimat deduktif secara langsung :
1. Pola kalimat
Tidak satupun S adalah P.
Tidak satupun P adalah S.

Contoh kalimat:
  • Tidak satupun manusia bisa terbang.
Tidak satupun yang bisa terbang adalah manusia.
  • Tidak satupun keyboard adalah drum.
·         Tidak satupun drum adalah keyboard.
2. Pola Kalimat
Tidak satupun S adalah P.
Semua S adalah tidak P.

contoh kalimat:
  • Tidak satupun kucing adalah bertelur.
Semua kucing adalah tidak bertelur.
  • Tidak satupun ikan bisa berlari.
Semua yang berlari adalah tidak ikan.

3. 5. Pola kalimat
Semua S adalah P.
Tidak satupun S adalah tidak P.
Tidak satupun tidak P adalah S.

contoh kalimat:
  • Semua cabai adalah pedas.
Tidak satupun cabai adalah tidak pedas.
Tidak satupun yang tidak pedas adalah cabai.
  • Semua luka adalah berdarah.
Tidak satupun luka adalah tidak berdarah.
Tidak satupun yang tidak berdarah adalah luka.

4. 1. Pola kalimat:
Semua S adalah P.
Sebagian P adalah S.

contoh kalimat:
  • Semua ikan hidup dilaut.
Sebagian yang hidup dilaut adalah ikan.
  • Semua anjing bisa menggigit.
Sebagian yang bisa menggigit adalah anjing.

5. Pola kalimat
Semua S adalah P.
Tidak satupun S adalah tidak P.

contoh kalimat;
  • Semua luka berdarah.
Tidak satupun luka tidak berdarah.
  • Semua es adalah dingin.
Tidak semua es tidak dingin.





Sumber:
http://makinkribo.blogspot.com.